Sejarah Desa
Tulisan sejarah desa Lemoh ini di kirim oleh saudara Yonics Tambahani yang secara ringkas di sadur dari arsip di kantor Kepala Desa Lemoh seperti yang di tuliskan di akhir tulisan ini.
Dengan adanya tulisan ini, di harapkan kita semua semakin mengenali sejarah desa kita yang tercinta, desa Lemoh.
Sejarah Lemoh menurut konsep yg Gw dapat….????? selamat membaca
Pd Thn 1730 pndu2k Ds. MANDOLANG meniggalkan Desanya. Mereka terbagi 3 Kelompok, Klmpok 1 dan 2 sama2 menuju LUAAN skrg dinamai Ds. RANOWANGKO slelah be2rapa Thn Kelompok 2 beralih ke wilayah bernama Lalem 1 nakel kemudian di namai Ds MAHTANI, sedangkan Kelompok 3 diperintahkan oleh ke 2 Dotu, Dotu GEMERUNG dgn DOTU POLII menyimpang ke Kiri (Timur) sampai di dataran rendah sebuah bukit kecil bernama SAMBALEAN pd Thn 1732 mereka tiba. (potong cirita bukang tu sambalean yg sering maso di blog ini hehehehe) lalu mereka membuat pondok2 krn di anggap baik utk di jadikan perkampungan.
Namun stlh di selidiki ternyata di tempat itu di huni oleh sebangsa SEMUT berbahaya yg menyebabkan rakyat luka-luka krn gigitannya (bahasa Tombulu Senget Rendem). Oleh ke-2 Dotu pemimpin/Teterusan menamakan t4 itu SENGET lalu rakyat meninggalkan t4 itu, saat itu Kelompok 3 tersebut masih tetap di Namai orang MANDOLANG.
Pd thn 1734 sebelum berangkat DOTU GUMERUNG mengumumkan kpd rakyat bahwa yg ditetapkan TETERUSAN/Pemimpin DOTU POLII.
DOTU PILII lalu memerintahkan meninggalkan SENGET menuju Selatan sampai di suatu wilayah yg Luas dan rata diapit oleh 2 sungai besar bernama Sungai Tombala sebelah selatan dan Sungai Lemoh sebelah Utara, lalu mereka berhenti di situ. Adapun pd masa itu harus mendengar tanda burung, bahasa Tombulu : Mengingkoko. Tanda burung bahasa Tombulu : Sikoko, Amat bagus bahasa Tombulu : Limemow (LEMOW) lalu rakyat tinggal di situ, tempat itu dinamai perkampungan/Desa LEMOW. Setelah bebarapa Thn di Ds. LEMOW, meninggal dunia Teterusan DOTU POLII, Maka MEWETAS-MEWETAS dan WALIAN-WALIAN menunjuk DOTU MANGALUM di angkat menjadi TETERUSAN/Pemimpin, setelah berlalu beberapa Thn ada seorang Tua (MAWENTAS) ingin meninjau keadaan Wilayah desa yaitu DOTU KAPOH (mar bukang JOHANIS KAPOH (Om Yo) kita Pe Opa…hehehe, Cuma potong cirita, jgn talalu tegang) Beliau (DOTU KAPOH) menyusur Sungai Lemoh sampai di t4 mata air yg keluar dari antara batu2 besar Pd naungan sebatang Pohon kayu yg besar, dari daunnya di kenalpohon itu bernama MAHLEMOH. Setelah itu DOTU KAPOH melanjutkan peninjauan dlm beberapa hr lagi, lalu kembali pulang ke perkamapungan, langsung menghadap DOTU MANGALUM sbg TETERUSAN utk memberi laporan ttg keadaan wilayah yg di kunjunginya, bahwa pastilah perokonomian akan maju serta keamanan dan ketentraman terjamin. selanjutnya DOTU KAPOH dengan tegas Mohon agar TETERUSAN/PEMIMPIN DAPAT MENYETUJUI, Nama Desa sebaiknya di ganti dan dipilih dari nama : TOMABALA atau LEMOH. mendengar Laporan yg disampaikan oleh mawentas itu, TETERUSAN DOTU MANGALUM sangant bergembira dan memanggil TONAAS-TONAAS/WALIAAN-WALIAN Untk maksud yg baik itu. WALIAN-WALIAN menuju ke t4 PERARAGESAN (T4 Upacara). Selesai upacara mereka menghadap TETERUSAN maka dengan tenang WALIAN yg tertua berkata : yg diperkenankan oleh MUNTU-MUNTU yg sangat baik : LEMOH. Oleh TETERUSAN mengemukakan kepada Rakyat nama desa telah di ganti dgn Nama LEMOH.
Apa yg dikatakan DOTU KAPOH sesungguhnya terlaksana yaitu : Rakyat akan aman tentram perekonomian lancar perampok sukar masuk sebab di sebelah utara dan selatan dihalangi oleh ke-2 sungai besar itu (Sungai Tombala dan Sungai Lemoh).Namun setiap kali hUjan lebat rakyat di hebohkan oleh banjir ke-2 sungai tersebut, sehingga desa bergerak2 laksana gempa bumi yg hebat serta banyaknya katak yg naik ke darat, lalu di umumkan bahwa desa Lemoh jelasnya Lemoh Tua akan ditinggalkan dan akhirnya desa Lemoh Tua di tinggalkan. (Tiba Thn 1734)
Pd Thn 1740 tibalah mereka berangkat meninggalkan Desa Lemoh Tua dgn persiapan utk perjalanan sudah rampung. Sekonyong-konyong (Tiba-tiba) di umumkan bahwa kerangkatan di batalkan sebab TETERUSAN DOTU MANGALUM telah meninggal Dunia lalu seluruh rakyat berkabung selama hari2 berkabung, rakyat harus memperingati akan ke-3 TETERUSAN/Kepala Desa yg telah meninggal Dunia di Desa Lemoh Tua yaitu (DOTU GUMERUNG, DOTU POLII dan DOTU MANGALUM).
Setelah genap hari-hari berkabung, mendahului hari keberangkatan, Tonaas-tonaas dan Waliaan-waliaan mengankat seorang menjadi TETERUSAN yg akan memimpin rakyat pd umumnya ialah DOTU SILAP. Oleh beliau bersama-sama dgn Mewentas-Mewentas dan Tonaas-Tonaas memimpin rakyat meninggalkan Lemoh Tua yg kemudian disebut NIMAWANWA.
B e r s a m b u n g.
- Januari 15, 2009 pukul 09:37
Sejarah Desa Lemoh (Lanjutan)
Setelah rakyat yg di pimpin oleh DOTU SILAP tiba di suatu tempat yg cukup luas dan rata serta berumput bernama rumput Lawiong dan dianggap baik dijadikan tempat tinggal, lalu mereka tinggal di tempat itu dan dinamainya tempat itu LAWIONG. Akan tetapi tempat itu hanya sementara karena terjadi sesuatu yang tidak di inginkan rakyat.
Kejadian tersebut yaitu :
Pada suatu hari, seorang Bapak pergi menimba air di suatu sungai kecil, setibanya di sungai itu bunyi burung (bahasa Tombulu = Sikoko), lalu bapak tersebut melihat ke arah datangnya bunyi itu tiba-tiba sebatang ranting kayu jatuh tepat pada hidung s bapak sehingga luka. Setelah sembuh luka di hidungnya si bapak hidungnya telah cacat/fonoso(Bahasa Tombulu = Sensong). Dengan kejadian itu maka dengan persetujuan DOTU SILAP Mawentas-Mawentas dan Tonaas-Tonaas menamai sungai kecil itu Sungai Sensong.
Lain dari pada itu, dalam perjalanan dari Lemoh Tua Ke Lawiong melintasi melintasi wilayah yang hingga kini kita kenal dengan nama : Manamperwene. Wilayah itu tempat mengadakan ramaian/Acara
pada waktu panen seperti : MAHSAMPER (Lagu-lagu mengandung Arti), MAHOWIE (Lagu-lagu Do’a permohonan dan menyampaikan), KEMBERU (Syukur dan terimakasih), RARANIEN (Kiasan-kiasan/Sindiran-sindiran yang baik), RARAMBAIEN (Lagu-Lagu dan Do’a Naik Rumah Baru), LALAIAN (Muda-Mudi), MAHSEMBOW (Lagu-lagu Do’a permohonan dan menyampaikan) dan sebagainya.
Penyusunan lagu-lagu itu, orang-orang tua laki-laki dan wanita-wanita yang berpengalaman disebut Ahkaum Banua (Wanua) atau Wohone mereka ini digelar WARENEI, disalin Gelar SARJANA. Kebudayaan asli adalah MAENGKET ASLI MINAHASA. Mereka tiba di LAWIONG Thn 1742 berangkat Thn 1746.Ketika tiba pada waktu untuk berangkat Thn 1746 DOTU TETERUSAN menginstrusikan kepada Tonaas-Tonaas dan Mawentas-Mawentas memimpin rakyat menuju Selatan melalui Sungai RANOILAKON, Sungai PANIKI dan beberapa sungai kecil sampai tiba di suatu wilayah yg oleh DOTU SILAP memberi nama WELAS (ELAS) artinya Luas, lalu rakyat pondok-pondok tempat tinggal. karena itu baik di jadikan tempat tinggal. Namun sebelumnya dalam perjalanan mereka melewti sebuah singai kecil, rakyat di suruh berhenti melepas Lelah. Laki-laki yang membawa bekal dan mandi-madi bersama di sungai kecil itu. Airnya di Bendung sehingga terjadi Kolam. Selesai mandi, Bendungan dibongkar sehingga mengakibatkan beberapa bulu berisi bekal terhanyutkan oleh derasnya Air. Karena kejadian itu sebelum berangkat, Dotu Silap mengumumkan sungai kecil itu di namai MAHALIMBUKAR (Buluh Berisi Bekal Bahasa Tombulu = Wukal Walongsong) di buat dari buluh betung.
Akan tetapi di WELAS hanya beberapa tahun saja, sebab belum lama di tempat itu rakyat mendapat rupa-rupa penyakit seperti : perut busung alais buncit – muka pucat dan seluruh badan terlihat bengkak-bengkak dan sebagainya. Mungkin akibat Air sungai yang dipergunakan rakyat mengandung bibit penyakit dan sekitarnya berawa-rawa. sehingga singai itu dinamai oleh DOTU SILAP Sunagai TOMBULUAN Nama itu di dasarkan :
1. Alat senjata Rakyat Buluh-Tui
2. WULUS (Gunung) Rakyat dari Gunung
3. WULUR (Pegunungan) rakyat telah melalui banyak pegunungan, apalagi wilayah-wilayah yang telah dilalui dikelilingi oleh beberapa pegunungan kecil.
Saat itu mereka tiba di WELAS Thn 1747 dan berangkat lagi Thn 1749Tahun 1749 mereka ke Arah Timur setelah menyebrang sungai Paniki rakyat di perintahkan berhenti di suatu wilayah yang cukup Luas dan Rata lalu rakyat di suruh untuk mendirikan pondok-pondok tempat tinggal. Untuk menjamin keamanan rakyat, oleh DOTU SILAP maka dia memilih Pria yang kuat dan BERANI : POPOKAL. Sungai yang airnya dipergunakan rakyat dinamai WAWANATA karena serangan -serangan dari Luar, maka DOTU SILAP, Tonaas-Tonaas dan Mawentas-Mawentas dan POPOKAL (POKAL) yang memimpin untuk keamanan, se ia dan se kata mengirim utusan kepada pemimpin-pemimpin sebuah desa di sebelah yaitu desa TELING. Utusan-utusan diterima baik oleh peimpin-pemimpin dan Tua-tua desa TELING mendapat persetujuan, datang menempati sebelah barat (Sekarang desa LEMOH TIMUR dan sebagian Desa LEMOH). Sekembali utusan-utusan itu menyampaikan berita yang menggembirakan. Mendengar berita itu DOTU SILAP segera memerintahkan rakyat siap-siap menyediakan bekal dan lain-lain keperluan di tempat yang baru itu serta mengumumkan bahwa tempat yang akan di tinggalkan di namai POPOKAN. Saat itu mereka Tiba di POPOKAL tahun 1750 dan berangkat tahun 1755
Karena berita mengembirakan itu maka DOTU SILAP mengumumkan bahwa tidak lama lagi akan meninggalkan POPOKAL, lalu rakyat bersiap-siap untuk meninggalkan POPOKAL.Setelah rakyat LEMOH tiba Tahun 1756 (LEMOH SEKARANG), maka ditentukan batas/sipat desa TELING dan desa LEMOH yaitu garis dimana sekarang lorong RANO SUI dan Lorong KAUNORAN. Rakyat LEMOH dan rakyat TELING dalam beberapa tahun tidak memiliki persengketaan. Akan tetapi kemudian terjadi sengketa karena tempat untuk mandi dan menimba air sama-sama di Air RANOSUI, Oleh sebab itu pemimpin-pemimpin ke-2 desa itu sepakat mengadakan musyawarah untuk mengamankan persengketaan tersebut. (Potong cerita memang sampe skarang Atas deng bawah sering Bakalai….) Lanjut
Dalam musyawarah itu telah mencetuskan beberapa keputusan-keputusan yang sangat penting dan keputusan-keputusan itu di jadikan peraturan desa (PerDes) dan di Sahkan menjadi HUKUM-ADAT.
Point-point tersebut Antara lain :
I. Tempat menimba Air dan tempat mandi, RANOSUI
II. Mengadakan Kekacauan, Di Pukul
III. Pencuri dan sebagaimana tidak mau mengembalikan apa yang di pinjam, sambil memikul hasil
pencurian di arak keliling desa dengan memukul TETENGKOTE (TONGTONG).
IV. Kawin, main bebas berdasarkan persetujuan kedua belah pihak yang bersangkutan.
a. Calon Suami dan calon Istri sesudah menikah patut rukun dan menaruh Cinta Kasih.
b. 1. Sesudah penyerahan harta-Nikah, pada masa itu dinamai : KAWIN-ADAT, si pemudi
munngkir jelasnya Anagan menerima Nikah-Sah, maka harta Nikah tidak di kembalikan.
2. Jika si pemudi mungkir maka Harta-Nikah dikembalikan dua kali Lipat artinya
harta-Nikah di tambah dengan ongkos-ongkos waktu penyerahan Harta-Nikah.
V. Desa nama pemimpinnya lebih dahulu meninggal dunia. tidak diperbolehkan mengangkat
seseorang pemimpin oleh pemimpin desa yang baru, melainkan rakyat desa itu langsung di
persatukan dan dipimpin oleh pemimpin desa yang masih hidup dan nama desa itu ditiadakan
(yang pemimpinnya lebih dahulu meninggal).Nomor V itu dikuatkan dengan sumpah
Bahasa Tombulu : I KATIK dan I TOWTONI KATIK = I Rambah Un Tanah Maka Siow
I TOWTON = I Wira Tun Tun Tuurna Ungkai TuanaPelaksanaan sumpah : TONAAS yang tertua di hadiri oleh pemimpin desa TONAAS-TONAAS dan MAWENTAS-MAWENTAS.
Nama-Nama DOTU Desa LEMOH dari MANDOLANG
1. DOTU GUMERUNG, DOTU POLII dan DOTU MANGALUM. Telah meninggal Dunia di LEMOH TUA (NINAWANUA)
2. DOTU SILAP, DOTU LELEN, DOTU WAHA, DOTU KUMEANG, DOTU TEROK, DOTU SUPIT, DOTU RUNTU, DOTU WALIAN, DOTU LOHO, DOTU KAPOH, DOTU TUMBEL, DOTU KOWAL, DOTU PANGALILA, DOTU RIPER, DOTU WOWOR, DOTU RUNTUWENE, dan DOTU PANGEMANAN.Nama-nama Dotu Desa TELING dari DESA KUKUN kemudian dirubah dinamai WARIRI sekarang dinamai WOLOAN
DOTU SUPID, DOTU TANGKILISAN, DOTU SUATAN, DOTU MANGIMBULAR, DOTU PANGKEY, DOTU TEROK, DOTU RUNTU, DOTU WALIAN, DOTU KEMBAJAK, DOTU WUNGOW, DOTU MONTOLALU, DOTU WOWILING, DOTU WAROW, DOTU KALESARAN, DOTU WONGKAR, DOTU WORUNG, DOTU LENAK dan DOTU LISA.Pemimpin/TETRUSAN (HUKUM-TUA) Desa TELING meninggal Dunia tahun 1770 dibacakan keputusan-keputusan hasil musyawarah terhitung mulai tahun 1770, Nama desa TELING di Tiadakan
(Jadi kedua DESA yaitu DESA TELING dan Desa LEMOH telah di persatukan menjadi DESA LEMOH sejak meninggalnya Pemimpin/Hukum-Tua Desa TELING)..-)
Karena melihat Aspirasi masyarakat untuk di adakannya pemekaran seiring semakin berkebangnya Desa Lemoh maka pada Tanggal 3 OKTOBER 2007 dengan SURAT KEPUTUSAN BUPATI MINAHASA STEVANUS VREEKE RUNTU maka di Desa LEMOH di mekarkan Berdasarkan menjadi Tiga Desa dan Berdasarkan letak Geografis maka Di Namai :
1. DESA LEMOH
2. DESA LEMOH BARAT
3. DESA LEMOH TIMURCatatan : “Cerita ini hanya di Ringkas dari Buku Sejarah Desa Lemoh Yang MAsih terarsip di KANTOR DESA LEMOH. Yang ingin mendapatkan Copy’nya untuk di baca-baca silahkan hubungi Hukum Tua Desa Lemoh Sekarang”.
PAKATUAN WO PAKA LAWIREN
-
29 Januari 15, 2009 pukul 09:56
Kepada Seluruh Pembaca Saya memohon maaf jika ada salah-salah Tulis atau ada kekurangan-kekurangan penerjemahan dalam Cerita Sejarah Desa Lemoh ini dan Saya ucapkan Trima Kasih Atas Waktunya telah membaca Sejarah Desa Lemoh ini…
Kiranya Kita Putera-Puteri Desa Lemoh Yang ada Sekarang Boleh memaknai bukan hanya membaca akan sejarah Desa kita yang Tercinta melainkan biasa menerusakan Karya dari Pendahu kita menjadikan Desa Lemoh lebih Maju… Bravo LEMOH…..TUHAN MEMBERKATI
asyik ada baca itu sejarah ds Lemoh, desa tempatku hidup selama kurang lebih 2 taon, waktu skolah di SMP Tanawangko (taon 1984-1986), sama sama dgn frets markus, janis worung, ber tambengi, anto, frans lenak, alfons sampel (alm), devi seke (so komandan di Tondano kalo nda salah),dan seterusnya, termasuk yang so jadi sekdes Lemoh Induk sekarang!
ada torang pe oto langganan yg setia menjemput pa torang… mar so meninggal kasiang tu opa itu… banyak dia pe jasa for anak2 sekolah waktu itu.. setiap pagi keliling lemoh menjemput anak2 yg sekolah di tanawangko… sekalipun torang abis doi.. tetap opa itu antar deng kijang tua, opa cm bilang: “nae jo, nti kalu so ada doi kg ngoni bayar noh…!!!” (mar ta kira nda ada stow yg da ba bayar stlah dapa doi kang Frets…). Luar biasa opa pe bantuan… Begitu jam kaluar skolah, opa so tunggu di muka skolah.
Wajar ta kira kalu opa itu dihormati sbg tokoh masyarakat ds lemoh. byk anak2 sekolah yg waktu itu termotivasi mo skolah… Nti kita mo cari inga tu opa itu pe nama.
salam
Hery Pangalila-Tujuwale
Amurang
to:hery p
salam kenal…….kalo nda salah itu opa pe nama opa ondoy…!
sekedar tambahan kira kira kampung lemoh lama yg ada diantara dua sungai dia pe nama kobong sawangan sekarang ada om hari terok pe kobong.
To : koventri.watulangkow[enti]
Bos… namanya lengkap amat… sampe nda dapa kanal he..he..
Truz update neh..
[url]http://jutersy.blogspot.com
Kze informasi trz…….
salam baku dapa,

tulisan tentang sejarah desa Lemoh ini sangat menarik N beking penasaran
mar boleh mo minta info tentang DS.MANDOLANG?
nyaku mungkin bukang orang lemoh mar nyaku banya sudara di Lemoh yang cuma tau dorang pe nama saja, blum pernah baku dapa. mar kita inga ta pe papa bilang nyaku ada oma, opa, tanta om dll di Lemoh. Jadi mo coba track sapa tau boleh mo kase kumpul ulang tu tulang sisa
Thanks,
Dew
‘ma kase Dew so sempat ba singgah di grup toulemoh ini. mengenai desa Mandolang saya masih belum ada info lebih banyak. Klo Dew ada waktu coba ke facebook grup toulemoh, dsana mungkin bisa dapat info lebih banyak mengenai keluarga yang di Lemoh. Mencari dan untuk menjalin kembali persaudaraan adalah salah satu kerinduan kita bersama.
Ok Dew torang tunggu di grup yah.